Sekilas Pengalaman Hidup :
Home » » Mengenal Lebih Dekat Kampung Vietnam di P. Galang Batam

Mengenal Lebih Dekat Kampung Vietnam di P. Galang Batam

Written By Unknown on Wednesday, December 11, 2013 | 8:32 PM

Berfose dengan latar duplicat perahu
Peristiwanya terjadi pertengahan tahun 1970-an setelah berakhirnya perang Vietnam yang ternyata menghadapkan dunia internasional pada masalah serius para pengungsi. Pemicu utamanya adalah jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan kekuasaan Vietnam Utara atau Vietkong, selain situasi kaostis di Kamboja.

Pulau Galang mencuat namanya sekitar 18 tahun lalu, tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia internasional, karena sekira 3,5 tanahnya yang masih menghutan, oleh UNHCR (United Nation High Commission for Refugees,) atas persetujuan pemerintah pusat, dibangun pusat pemukiman sementara pengungsi Vietnam yang meninggalkan negerinya karena dilanda perangan. Para pengungsi Vietnam itu dikenal pada waktu itu sebagai “manusia perahu”. Menurut keterangan para petugas yang masih berada di tempat permukiman itu, orang-orang Vietnam yang keluar dari kampung halamannya itu mengarungi sekitar Laut Cina Selatan dan masuk perairan Indonesia dengan menggunakan perahu tua berbagai ukuran yang bocor. Pada setiap perahu itu ada yang berpenumpang sekira 40-100 orang, terdampar atau mendamparkan diri di sekitar pantai Tanjung Uban, Kepulauan Natuna, Pulau Galang dan di sekitar pulau-pulau kecil lainnya yang tidak berpenghuni. Pada waktu itu mereka ditemukan dan ditolong oleh patroli Angkatan Laut Indonesia dan para nelayan setempat.

Prasasti di Camp Perkampungan Vietnam
Peristiwa tersebut yang kemudian menimbulkan kekhawatiran banyak orang di wilayah selatan Vietnam dan mendorong mereka meninggalkan kampung halamannya untuk mencari perlindungan baru. Dengan demikian, banyak alasan para pengungsi itu meninggalkan tanah air mereka, laki-laki, perempuan, tua-muda, dan anak-anak menyelamatkan diri. Mereka dengan menggunakan perahu tua yang bocor itu, berlayar ke laut terbuka tanpa tujuan yang jelas, dan sampailah di perairan Indonesia. Di kemudian hari mereka menjadi masalah banyak negara dan melibatkan perhatian dunia internasional.

Indonesia pada saat itu adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memberikan respons yang muncul terhadap masalah internasional yang urgen itu. Dan menolong para pengungsi itu untuk masuk, dan setuju Pulau Galang yang terletak sekira 50 km sebelah selatan Pulau Batam dan hanya sekira setengah jam dari Singapura dengan menggunakan feri, dipilih sebagai tempat transit para pengungsi Vietnam. Sambil menunggu mereka secara administratif diproses untuk dikirim ke negara ketiga.

Inilah perahu asli vietnam yang dipakai mengarungi Samudera Hindia itu
Di areal peruntukan pemukiman di Pulau Galang itu, UNHCR membangun perkampungan yang dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana lengkap dan sangat memadai, seperti jalan yang teratur dan kualitas sangat baik yang menghubungkan dengan pelabuhan kecil yang digunakan sebagai lalu lintas suplai kebutuhan hidup para pengungsi itu. Tempat ini dikenal dengan nama Pelabuhan Karyapura. Di situ terdapat restoran makanan laut yang diusahakan oleh para pengungsi, gedung pertemuan, sekolah, gereja, pintu masuk melalui darat dan bangunan untuk fasilitas latihan para petugas daerah. Di pemukiman tersebut, dibangun pula perumahan untuk pegawai lokal UNHCR, pagoda, rest area, camping ground, “Galang Memorial Hall”. Ada sekira 500 orang meninggal di kampung Vietnam itu, karena memang sudah tua dan sakit. Mereka dikuburkan dalam suatu areal pemakaman yang teratur dan terawat baik.

Museum Camp Perkampungan Vietnam
Perumahan pengungsi dan sarana gedung lainnya yang sekarang sebagian besar tampak tidak terawat, kecuali bangunan suci umat Budha (pagoda) dimanfaatkan dan dirawat orang-orang Budha Cina Riau. Bangunan yang ada itu sekarang sedang direnovasi dan dimanfaatkan sebagai salah satu unggulan kawasan wisata pemerintah daerah Batam.

Barang-Barang peninggalan masyarakat Vietnam
Peralatan dapur, mesin tik dll
Suatu tempat yang sangat ideal untuk dijadikan areal pendidikan di alam terbuka bagi anak-anak dan pemuda, semacam bumi perkemahan Cibubur di Jakarta. Selain itu tempat tersebut menarik dikunjungi, baik turis lokal maupun mancanegara untuk melihat sambil mengagumi nilai-nilai yang terkandung di balik pembangunan perkampungan tersebut. Juga sambil melakukan refleksi diri, pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa itu untuk masa depan kehidupan umat manusia.

“Kampung Vietnam” di Pulau Galang yang sejak tahun 1979-1996 pernah dihuni sekira 250.000 orang manusia perahu yang dikumpulkan dari berbagai tempat di sekitar Kepulauan Riau itu. Sebelumnya mereka hidup bersama penduduk setempat dengan imbalan barang-barang yang mereka bawa. Pada umumnya mereka memberikan imbalan berupa emas. Dan kesan penduduk yang pernah berhubungan dengan para pengungsi itu, di antara mereka tampaknya banyak orang yang tergolong berada. Atas prakarsa pemerintah dan UNHCR, sengaja mereka dikonsentrasikan pada suatu tempat permukiman yang tertutup interaksinya dengan penduduk setempat untuk memudahkan pengawasan, pengaturan dan keamanan mereka. Selain itu, pemerintah khawatir akan berjangkitnya penyakit kelamin yang mengerikan yang kedapatan di antara mereka, yang disebut Vietnam Rose, sebelum orang mengenal virus HIV yang lebih mengerikan lagi.

Sekarang, perkampungan para pengungsi Vietnam itu telah menjadi wilayah terbuka untuk dikunjungi masyarakat karena telah ditinggalkan para pengungsi.

Bersama sang Bapak berfose di depan peralatan itu

Foto-Foto kenangan kegiatan di camp penampungan Vietnam kala itu
Selama 18 tahun, dengan dukungan mengesankan dari komunitas internasional, UNHCR/badan PBB yang berurusan dengan masalah-masalah pengungsi dan pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Angkatan Laut pada waktu itu, para pengungsi Vietnam yang dilindungi di Pulau Galang telah berhasil dipulangkan. Sekira 5.000 orang pengungsi kembali ke kampung halamannya dan yang lainnya meninggalkan Pulau Galang menuju tanah airnya yang baru, tersebar di negara-negara ketiga, di antaranya ada yang menuju Australia dan Amerika Serikat. Perkampungan Vietnam yang sejuk dan indah serta jauh dari keramaian itu, bagi mereka hanya tinggal kenangan yang tentu sulit untuk mereka lupakan. Di mana UNHCR dan pemerintah Indonesia menyatakan bahwa areal permukiman Vietnam itu menjadi wilayah konservasi sebagai “museum terbuka” untuk umum yang dilindungi keberadaannya sebagai bukti kepada dunia bahwa Indonesia memiliki komitmen tinggi dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang penting dalam sejarah peradaban modern di Asia Tenggara.
Pada tahun 1996, seluruh pengungsi dipulangkan kembali ke negara-nya, dan sekarang objek wisata bersejarah tersebut dapat kita nikmati dan kita jadikan pembelajaran tentang bagaimana perjuangan masyarakat Vietnam bertahan hidup di tanah rantau

Menengok sisa-sisa peninggalan Kampung Vietnam di Pulau Galang, pertama-tama memasuki kawasan tersebut tampak pekuburan umum kampung Vietnam yang menandakan bahwa kala itu masyarakat Vietnam sudah hidup turun temurun di sana, setelah menelusuri jalan kita akan menemukan duplikat kapal yang dipakai oleh masyarakat vietnam saat mengarungi Laut Cina Selatan guna menghindari Perang Dunia II kala itu di negara Vietnam. setelah menyambangi tempat tersebut. dilanjutkan ke tempat museum Kampung Vietnam. di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa peralatan dapur masyarakat Vietnam kala itu disertai dengan foto-foto kenangan saat diangkatnya kapal vietnam di pinggir pantai. di tambah lagi KTP masyarakat Vietnam yang mendiiami kampung tersebut dahulu.

Inilah pekuburan tua masyarakat Vietnam itu
Bukti sejarah bahwa masy. Vietnam sudah hidup di P. Galang secara turun temurun
Memang betul apa yang disampaikan masyarakat Batam, bahwa jauh sebelum Batam berkembang seperti sekarang ini, dahulu kala ada perkampungan Vietnam yang benar-benar masyarakatnya berasal dari negara Vietnam, ini terlihat jelas lewat tulisan-tulisan yang berbahasa vietnam.

Tulisan Bahasa Vietnam
Apabila anda berkunjung ke Batam, tak lengkap kiranya kalau anda tidak berkunjung ke Camp Pengungsian Vietnam di Pulau Galang Batam. apalagi setelah keluar dari perkampungan Vietnam, tampak tempat ibadah yang dipakai oleh masyarakat vietnam kala itu. sekarang sudah direnovasi dan menjadi tempat beribadah bagi penduduk Batam yang beragama Budha.

Untuk sekedar berbagi pengalaman seputar Kampung Vietnam dan untuk bertukar informasi melalui galery foto kami saat berkunjung ke sana, silahkan anda lihat galery fotoku di Klik Here


Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Awaluddin, SE | Sekilas Pengalaman
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Sekilas Pengalaman Hidup - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Awaluddin, SE